ads

Papan Indah Furniture Indonesia

Slider

Sofa

Dining Room

Master Bedroom

Do You Know?

Chair and Table


POTENSI KEBAHARIAN JEPARA  SEBAGAI SATU LANDASAN  MEWUJUDKAN MODEL REVITALISASI KOTA PELABUHAN




Oleh :Dra. Sri Indrahti, M.Hum.


ABSTRACT

Potensi sosial budaya masyarakat Jepara  yang  mempunyai orientasi pengembangan pada wilayah pantai cukup banyak. Potensi budaya tearsebut meliputi kebijakan pemerintah, lokasi peninggalan sejarah yang sekaligus difungsikan sebagai cagar budaya, upacara tradisional dengan nilai-nilai kebaharian yang dijasikan sebagai daya tarik wisatawan,  kerajinan yang berakar pada budaya laut serta tempat-tempat wisata yang dimungkinkan  sebagai arena dunia fantasi yang mempunyai lokasi di laut.

          Potensi kebaharian tersebut dapat dimanfaatkan untuk model revitalisasi kota pelabuhan karena telah ditunjang oleh kebijakan pemerintah berdasarkan pada Renstrada Jepara tahun 2002-2007, salah satunya mengenai  perencanaan penggunaan ruang. Beberapa situs  peninggalan  yang mempunyai keterkaitan dengan peran jepara sebagai kota pelabuhan dijadikan cagar budaya. Situs sejarah yang dimaksud antara lain makam ratu Kalinyamat, masjid Mantinga, benteng VOC dan benteng Portugis. Tempat-tempat tersebut mempunyai peran penting dalam perjalanan sejarah Jepara sebagai kota pelabuhan.   
         
Key words : budaya kebaharian, benteng, upacara tradisional


I. PENDAHULUAN

Berdasarkan Rencana Strategis Daerah (Renstrada) Kabupaten Jepara tahun 2002-2007, Pemkab Jepara menerapkan kebijakan Perencanaan Kota dan Wilayah, Perumahan dan Pemukiman, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup dan Perencanaan Alokasi Penggunaan Ruang [1].(Pemkab Jepara, Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi, Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah kab Jepara tahun 2006, hal. 22-29).

      Menurut perencanaan alokasi penggunaan ruang, kawasan yang dikategorikan sebagai kawasan suaka cagar alam dan budaya meliputi kawasan suaka alam laut yang  meliputi persisir, muara sungai, gugusan karang  dengan   ciri khas berupa keragaman dan keunikan ekosisitem, dengan lokasi di kecamatan Karumunjawa. Sementara itu  kawasan cagar budaya merupakan kawasan yang mempunyai nilai penting bagi sejarah dan budaya, berupa peninggalan sejarah yang berguna bagi pengembangan budaya dan ilmu pengetahuan. Beberapa lokasi cagar budaya yang berada di kecamatan Jepara yaitu  makam Ratu Kalinyamat, masjid mantingan dan  benteng VOC, sedangkan yang berada di kecamatan Keling yaitu benteng Portugis.

Perencanaan alokasi penggunaan ruang lainnya meliputi  kawasan perlindungan terhadap kawasan di sekitarnya atau bawahnya, kawasan perlindungan setempat yang meliputi kawasan pantai yaitu sepanjang tepian yang bertujuan melindungi pantai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu ekosistem yang ada (sepanjang pantai di Kecamatan Kedung, Jepara, Mlonggo, Bangsri). Melihat kebijakan tersebut dapat dikatakan bahwa Pemkab Jepara memberikan perhatian utama pada pelestarian alam yang ada di pantai, termasuk kemungkinan pengembangan fungsi pelabuhannya.
Dari kebijakan pemkab Jepara yang berkaitan dengan suaka budaya, terlihat bahwa pemerintah daerah memberikan perhatian yang baik terhadap peninggalan budaya yang mempunyai keterkaitan dengan peran Jepara sebagai pelabuhan. Mengingat pembangunan benteng VOC maupun benteng protugis tidak dapat dilepaskan dari upaya pertahanan daerah serta hubungannya dengan  peran Jepara sebagai kota pelabuhan.

Dari program tersebut, tampak adanya upaya pemahaman pengelolaan sumber daya alam dengan tetap memperhatikan kepentingan aspek sosial dan budaya. Dengan demikian masih ada komitmen dari pemerintah daerah untuk tetap melestarikan nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan peran Jepara yang cukup strategis pada masa lalu.

 Kebijakan yang berkaitan dengan pemberdayaan kawasan pariwisata, terdapat  di  kecamatan Jepara meliputi museum RA.Kartini, pendopo kabupaten, pantai Kartini, pantai Tirta Samudra, benteng VOC, makam dan masjid Mantingan dan pulau Panjang, taman Setri (Kecamatan Batealit), air terjun Songgolangit (Kecamatan Kembang); benteng Portugis, goa Tritip dan pemandian Sonder di Kecamatan Keling. Sementara itu monumen ari-ari RA. Kartini di kecamatan Mayong, wana wisata Sreni (Nalumsari) dan Taman Nasional Laut di Karimunjawa.

Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa lokasi situs yang berkaitan dengan peran Jepara sebagai kota pelabuhan terdapat pada kawasan prioritas resapan air  pembangunan PLTN dan daerah perbatasan (Benteng Portugis), di samping itu juga masuk kategori kawasan penunjang sektor strategis ekonomi (Benteng VOC, pelabuhan, pantai Kartini dan Pantai Samudra).

 Dalam rencara pengembangan wilayah kota, peran kota Jepara sebagai pusat administrasi daerah kabupaten Jepara, tampak pada fungsinya antara lain sebagai kota pusat kerajinan ukiran dan industri mebel kayu untuk skala regional Propinsi Jawa Tengah dan nasional  serta sebagai kota pengembangan kegiatan pariwisata, khususnya untuk mendukung pengembangan kepulauan Karimunjawa.

Berkaitan dengan hal tersebut, strategi kebijakan yang diterapkan oleh Pemkab Jepara menyangkut  masalah sosial budaya terutama karena  kemajuan teknologi informasi, antara lain;  menciptakan suasna yang harmonis dan bersahabat yang berlandaskan nilai  keagamaan untuk kerukunan hidup bermasyarakat, meningkatkan upaya rehabilitasi dan pemulihan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang telah rusak, serta mempertahankan kondisi sumber daya alam dan lingkungan yang masih utuh.

Langkah tersebut dalam relitas kebijakan tampak pada upaya pemkab untuk melakukan pembangunan kembali benteng VOC yang dalam perkebangannya sekarang ini di sekitar situs tersebut telah banyak digunakan untuk tempat pemukiman. Melihat kondisi ini sudah seharusnya pemkab memberikan perhatian  untuk menertibakannya, agar lokasi situs sejarah tetap terpelihara. Di samping itu Pemkab juga perlu menyempurnakan pembangunan sarana rekreasi yang berbasis pantai, misalnya yang ada di pantai Kartini berupa aquarium kura-kura, gerbang masuk area masjid mantingan. 



II. CAGAR BUDAYA


2.1. Situs Benteng VOC


Benteng peninggalan Belanda yang dinamakan oleh masyarakat sekitar sebagai benteng Belanda atau benteng VOC ini, pada awal tahun 2008  mulai dilakukan pemugaran dan renovasi. Masyarakat sekitar juga ada yang menyebut dengan nama benteng Portugis. Hal ini menurut pemahaman mereka karena benteng tersebut digunakan oleh Belanda dan Portugis. Diperkirakan proses pembangunan benteng tersebut dilakukan secara bergantian,. Awalnya dilakukan oleh Portugis, belum sampai selesai kemudian dilanjutkan oleh Belanda[2].

Pembangunan benteng di kawasan ini diperkirakan karena letaknya yang sangat strategis untuk pertahanan dan kepentingan perdagangan, mengingat di bawah benteng tersebut terdapat bandar karena dulunya memang dekat dengan laut. Namun karena terjandinya proses sedimentasi yang terus-menerus dalam jangka waktu yang lama maka di bawah benteng pada masa sekarang ini sudah menjadi lahan pertanian dan perkampungan.

Di sekitar kawasan benteng juga ditemukan beberapa makam yang diperkirakan sebagai makam Belanda. Pada tahun  1960 ditemukan 3 buah menara, dengan bentuk benteng segitiga.Benteng tersebut menghadap ke laut, dengan kawasan desa Ujungbatu. Pada sekitar tahun 1964 di ujung benteng dipasang radar untuk kegiatan TNI AL (pada waktu konfrontasi dengan Malaysia). Di belakang Kabupaten terdapat benteng VOC, yang terbuat dari batu bata. Benteng Portugis atau benteng Belanda terbuat dari batu karang. Biasanya benteng yang terbuat dari batu karang atau batu kapur adalah benteng Portugis. Pembangunan atau renovasi dilakukan oleh Pemda meliputi pembuatan gapura setinggi 5-6 meter, yang dibuat mirip bentuk ”Van den Berg”.

Nama  van den Berg ini mengingatkan pada nama bentuk yang tertuang pada Peta Jepara pada tahun 1677 (Kaarte van’t Fort en Stad Japara tahun 1677). Dalam keterangan dalam gambar peta tersebut tertulis De Stylee van den Bergh. Ada upaya dari Pemkab Jepara untuk merenovasi sesuai yang ada dalam peta abad XVII tersebut. Pada masa lalu, bangunan benteng masih terlihat kuat, namun dalam kondisi sekarang ini, sudah dikelilingi bangunan perumahan. Di kawasan luar benteng juga terdapat    makam Kapten Tack.


2.2. Kondisi situs Benteng Portugis


                        Selain benteng VOC atau Belanda maka di Jepara juga terdapat benteng Portugis. Benteng tersebut tepatnya  terletak di desa Banyumanis kecamatan Keling sekitar  45 km di sebelah utara kota Jepara. Dilihat dari sisi geografis, benteng tersebut mempunyai letak strategis untuk kepentingan militer khususnya dengan kemampuan tembakan meriam yang terbatas yaitu 2 km sampai dengan 3 km saja. Beteng tersebut dibangun di atas sebuah bukit batu di pinggir laut dan persis di depannya terhampar pulau Mondoliko, sehingga praktis selat yang berada di depan benteng di bawah kontrol meriam.


          Berdasarkan dugaan sementara diperkirakan benteng Portugis dibangun oleh Pemerintah Mataram antara tahun 1613-1645 pada saat Sultan Agung menjadi Raja. Maksud didirikannya benteng ini adalah sebagai pusat pertahanan untuk menghadapi serangan bangsa kulit putih yaitu kompeni Belanda yang sewaktu-waktu datang lewat laut. Keyakinan bahwa benteng tersebut dibuat oleh orang Jawa pada jaman kerajaan Mataram, nampak dengan jelas dari bangunan benteng yang bukan gaya arsitektur Eropa[3].

          Pada abad ke-17 kekuasaan pemerintah Mataram sudah meliputi Jawa Timur dan Jawa Tengah termasuk Pati  dan Jepara, sedangkan antara kerajaan-kerajaan di Indonesia dengan bangsa kulit putih ataupun sesama kerajaan-kerajaan itu sering timbul peperangan karena perebutan daerah kekuasaan, hasil bumi serta perniagaan.

  Dibangunnya benteng tidak lepas dari  upaya perlindungan terhadap serangan dari pihak luar.  Maka Sultan Agung memerintahkan Bupati Pati Adipati Kembang Joyo Kusuma untuk mendirikan benteng sebagai tempat pengintaian. Oleh karena itu dibangunlah benteng di atas bukit Donorojo Keling yang mempunyai letak strategis dan dalam posisi yang cukup tinggi. Hal ini dilakukan Sultan Agung untuk menggalang kerjasama dengan Portugis sekaligus mengusir Belanda dari tanah Jawa.

          Tampaknya kerjasama Mataram dengan Malaka tersebut tidak dapat berlangsung lama karena Portugis tidak bisa menepati janjinya untuk mengirim armada laut yang kuat guna menyerang VOC di Batavia, bahkan pada tahun 1642 orang-orang Portugis meninggalkan  benteng tersebut karen Malaka sebagai kota utama Portugis di Asia Tenggara justru direbut oleh Belanda pada tahun 1641.

          Lokasi bekas-bekas benteng yang terletak di atas bukit tersebut masih terawat dengan baik serta pemandangan alam yang indah karena dapat melihat pulau Mondoliko serta gunung Pucang Pendowo serta kesibukan nelayan dengan perahu-perahunya.

          Masyarakat sekitar yang bertempat tinggal di dekar benteng, mempercayai adanya cerita rakyat yang dapat dikatkan dengan keberadaan benteng Portugis. Masyarakat mengenal seorang tokoh yang berwujud kuda dengan nama “Baron Scheber”. Cerita Baron Scheber ini  dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai cikal-bakal keberadaan benteng, mengingat cerita ini sering dipertunjukkan pada kesenian kethoprak yang dilestraikan masyarakat setempat.

Diceritakan bahwa  sekitar  abad ke 17, ada sayembara adu kesaktian antara Baron dan Kembang Joyo Kusuma, untuk memperebutkan jabatan sebagai Bupati Pati. Isi dari sayembara tersebut adalah, barang siapa yang dapat bertahan hidup dengan menyelam di laut selama satu tahun maka dialah yang akan menjadi penguasa di daerah tersebut.

          Berkat tipu muslihatnya  dengan bertahan hidup di terowongan buaya putih yang dapat tembus sampai ke gua Tritip, maka Kembang Joyo Kusumo keluar sebagai pemenangnya dan menjadi penguasa di daerah Pati. Sedangkan Baron Scheber yang dikenal sebagai orang jujur karena mengikuti aturan yang berlaku, hanya karena tahan beberapa bulan dan kembali ke darat. Kekalahan ini mengharuskan Baron mengabdi ke kabupaten dan kemudian disabda oleh Kembang menjadi kuda yang diberi nama “Kuda Baron Scheber”[4].

          Kuda sakti  yang bisa terbang tersebut menarik perhatian Sultan yang berharap ingin memilikinya. Dimintalah kuda tersebut oleh Sultan dan  sebagai bentuk kepatuhan dari Kembang Joyo Kusumo  kepada Sultan maka kuda tersebut diberikan. Namun alangkah terkejutnya Sultan, keinginannya untuk memiliki kuda tersebut memperoleh jawaban sendiri dari Baron Scheber. Menurutnya, Sultan dapat memilikinya asal memperbolehkan kuda Baron tidur di kasur tilam. Mendengar jawaban dari kuda tersebut, Sultan amat tersinggung dan marah, sehingga menyabda kembali kuda menjadi manusia aslinya. Begitu berubah menjadi manusia, Baron mengatakan bahwa ia mau mengabdi pada Sultan nanti kalau sudah ada kuda bule yang matanya rabun. Kuda bule yang dimaksud adalah  bangsa barat yang datang ke Jawa[5].

          Dipercaya oleh masyarakat setempat, bawa di atas benteng terdapat makam orang-orang Belanda yang diberi nama kuburan Nonik. Sebelah utara dekat pantai masih dapat ditemukan bangunan untuk menyimpan meriam sekaligus sebagai tempat mengintai  kapal-kapal yang datang dan melewati laut. 

2.3. Pengembangan Potensi Bahari


Di bidang industri pariwisata, pemkab Jepara  sedang menggalakkan sektor ini untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Obyek-obyek wisata yang dikembangkan bukan hanya yang menyangkut wisata alam tetapi juga wisata sejarah dan event budaya. Wisata alam menonjolkan pada segi keindahan alam. Alam Jepara cukup kaya akan keindahan alam seperti Sreni Indah, Pantai Kartini, Taman Nasional Laut Kepulauan Karimunjawa, dan sebagainya. Sreni Indah terletak di lereng Gunung Muria di wilayah Kecamatan Nalumsari, 35 Km dari Jepara. kawasan seluas 110 Ha yang dikelola Perhutani Jepara. Kawasan ini dipenuhi dengan tanaman pinus sehingga sangat nyaman karena berhawa sejuk. Pantai Kartini terletak di sebelah barat Jepara yang merupakan tempat rekreasi yang telah begitu dikenal oleh wisatawan  dengan nama Taman Rekreasi Pantai Kartini. Penataan kawasan in terus dilakukan dengan pembuatan gardu-gardu pandang dan tempat parkir yang cukup luas.

Di samping itu telah dilengkapi pula dengan kios-kios souvenir dan perahu-perahu pesiar. Para pengunjung juga dapat mengunjungi pulau Panjang dan bercengkerama di pantai yang berpasir putih tersebut. Disamping pantai Kartini, wisata bahari lainnya yang menarik adalah pantai Bandengan atau sering disebut dengan pantai Tirta Samudra yang dikenal akan pasir putihnya. Lokasi wisata ini dulu sering digunakan RA.Kartini mengajak bangsawan Hindia Belanda Ny. Ovink Soer (istri Assisten Residen) bersama suaminya untuk berlibur pada saat kenaikan kelas. Bahkan  Ny Ovonk menyamakan pantai Bandengan ini dengan tempat  yang ada di Holland namun dengan Klein Scheveningen.

Kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Karimunjawa terletak di Laut Jawa + 83 km dari Kota Jepara menuju arah utara. Obyek ini merupakan kepulauan yang ditetapkan sebagai Taman Nasional Laut Karimunjawa dengan luas daratan 7.120 Ha dengan pulau berjumlah 27 buah. Di antara pulau-pulau itu baru 5 buah. yang berpenghuni yaitu Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk dan Genting dengan hamparan pemandangan di sela-sela pulau, pasir putih yang membentang di sepanjang pantai dengan pohon kelapa. Terdapat 242 jenis ikan hias, serta 133 genera fauna akuatik. Dengan kapal motor, Karimunjawa dapat ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam dari dermaga Jepara. Di kawasan Taman Nasional laut ini juga telah dibangun "Kura-Kura Resort" yang merupakan kawasan peristirahatan dengan fasilitas lux, yang merupakan milik investor asing.  Pantai-pantai di Karimunjawa sebagian besar berpasir putih, oleh karena itu cocok untuk kegiatan berjemur, menyelam dan memancing. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di Karimunjawa antara lain olah raga selam, berjemur dan mandi.  


III. UPACARA TRADISONAL


3.1.  Sedekah Laut atau Lomban  

  
Upacara traditional sedekah laut atau sering disebut juga dengan pesta lomban merupakan upacara tradisi yang dipelihara masyarakat Jepara khususnya yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Tradisi ini pada mulanya dipelihara dan dilaksanakan oleh masyarakat nelayan di sekitar desa Ujungbatu, namun dalam perkembangannya tradisi ini telah menjadi milik masyarakat Jepara pada umumnya. Tradisi ini merupakan puncak dan sekaligus penutup acara Syawalan yang diselenggarakan pada 1 (satu) minggu setelah hari raya Idul Fitri.

Tradisi sedekah laut ini  pada mulanya merupakan kebiasaan kegiatan selamatan bagi kelompok nelayan yang ada di sekitar Kali Wiso. Adapun tujuannya sebagai ungkapan syukur karena mereka merasa mengambil hasil dari laut, dan merasa kehidupannya bergantung pada laut. Aktivitas ini lama kelamaan banyak ditiru oleh masyarakat di sekitarnya.

Bahkan tokoh masyarakat yang bernama Haji Sidiq, seorang yang cukup kaya dan berasal dari masyarakat laut memulai selamatan dengan menyembelih kerbau kemudian dagingnya dibagikan kepada masyarakat dan kepalanya dipakai sebagi sesaji bagi penguasa laut. Aktivitas ini kemudian dilanjutkan secara turun-temurun oleh masyarakat yang merasa mampu melaksanakan tradisi ini. Haji Sidiq adalah mantan kepala desa yang menjabat sebelum H. Zainal Arifin. Dialah yang mengusulkan agar diadakan acara sedekah laut secara besar-besaran dengan pelarungan kepala kerbau.

Sedekah laut yang  sering pula disebut Bakda atau Bada lomban (Bada kupat), bagi masyarakat Jepara sudah menjadi tradisi yang dikaitkan dengan kebiasaan memasak  kupat dan lepet disertai rangkaian masakan lain yang lezat  seperti opor, ayam, rendang daging, sambal goreng, oseng-oseng dan lain-lain.

Jenis makanan ini sudah bukan jenis makanan yang asing bagi masyarakat setempat. Makanan ini tidak berbeda dengan nasi karena terbuat dari beras yang dibungkus daun kelapa muda (janur), dan rasanya lebih lezat. Lain halnya dengan  lepet, bahannya dari ketan disertai parutan kelapa dan diberi garam. Lepet ini rasanya lebih gurih dan dimakan tanpa lauk-pauk. Bentuknya bulat panjang sekitar 10 cm. Selain hidangan khas bakda kupat dengan kupat lepetnya, masyarakat Jepara masih menyediakan aneka makanan kecil.

Di dekat muara Kaliwiso juga telah disediakan selamatan tersendiri dengan menugaskan seseorang yang dianggap mampu menyediakan uborampe berupa dekem ayam, arang-arang kambang, jembak jengkarok gimbal, rujak degan, jajan pasar, serta bubur abang bubur putih. Setelah selamatan di berbagai tempat tersebut selesai maka masyarakat berbondong-bondong menuju TPI (Tempat Pelelangan Ikan ) Jobokuto yang dijadikan sebagai tempat upacara resmi.

Bagi masyarakat nelayan sendiri kegiatan ini juga dijadikan sarana untuk  lomba, antara lain lomba dayung, lomba menangkap bebek, lomba lorotan, lomba tarik tambang serta lomba pesta mercon. Setelah itu dilanjutkan dengan pertunjukkan wayang kulit selama dua kali.
  
     
Seusai  pertempuran, para peserta lomban  bersama-sama mendarat ke Pulau Kelor untuk menikmatimati bekalnya masing-masing.  Situasi di pulau Kelor tersebut ramai oleh para pedagang yang juga menjual makanan dan minuman serta barang-barang kebutuhan lainnya. Selain pesta-pesta tersebut, para nelayan peserta pesta lombann tidak lupa terlebih dahulu berziarah ke makam Encik Lanang yang dimakamkan di pulau Kelor. Sebelum sore hari, pesta lomban berakhir, penonton dan peserta pesta lomban pulang ke rumah masing-masing.

Bagi masyarakat sekarang ini, upacara lomba lebih dimaknai sebagi ucapan syukur terutama masyarakat nelayan terhadap Tuhan Yang Maha Esa meskipun di satu sisi masih ada unsur-unsur pelestarian budaya lama dengan mengaitkan rasa syukur tersebut terhadap yang mbaurekso laut, karena selama satu tahun penuh telah memberikan penghidupan kepada mayarakat nelayan, sekaligus sebagai pengharapan agar tahun berikutnya hasil yang diperolehnya mengalamai peningkatan. Bahkan ada satu kepercayaan bahwa kalau tradisi ini ditiadakan maka akan timbul bencana yang besar di Jepara khususnya yang akan menimpa masyarakat nelayan, antara lain ombak yang terlalu lama, angin kencang, dan pohon-pohon besar runtuh. Kepercayaan ini tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sendiri. Sementara itu kapan mulainya lomban itu dilaksanakan masyarakat secara pasti tidak dapat ditahui.

Perang kupat dimaknai sebagai pelengkap, menggambarkan pada waktu ratu Kalinyamat mengadakan ekspedisi ke Malaka pernah dihadang oleh bajak laut dan terjadilah perang. Dalam atraksi tersebut digambarkan bahwa lempar melempar ketupat antara masyarakat nelayan yang menggambarkan bajak laut terhadap rombongan Bupati yang menggambarkan perahu Ratu Kalinyamat[6].

Sesuai dengan rangkaian kegiatan lomban tersebut, tampak bahwa tradisi ini dipelihara masyarakat dan mempunyai keterkaitan dengan unsur keberanian Ratu Kalinyamat dalam berperang, terutama mengusir penjajah. Peran inilah yang mempunyai keterkaitan dengan fungsi Jepara sebagai kota pelabuhan. Tampaknya masyarakat masih berusaha melestarikan semangat tersebut. 

Upacara ini diselenggarakan setiap satu tahun satu kali yaitu tiap bulan Syawal sedang penyelenggarannya sendiri diadakan 1 minggu sesudah hari raya Iduil Fitri. Karena untuk tahun 1983 hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Selasa dan Rabu tanggal 12 dan 13 Juli 1983, maka upacara Sedekah Laut di pantai Utara Kabupaten Jepara ini pada Hari Selasa tanggal 19 Juli 1983 dan oleh masyarakat setempat biasa disebut dengan Syawalan.

3.2.  Hari Jadi Kota Jepara


Hari Jadi Jepara telah ditetapkan tanggal 10 April 1549 berdasarkan Peraturan daerah Tingkat II Jepara Nomor 9 Tahun 1988, tentang  Hari Jadi Jepara. Adapun penetapan peraturan daerah ini mengacu pada tokoh Putri Retno Kencana, yang dinobatkan selaku penguasa Jepara dengan nama Nimas Ratu Kalinyamat[7]..

Setelah tewasnya Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak dalam ekspedisi militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbullah geger perebutan tahta Kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Prawoto dari Demak, disusul Pangeran Hadiri dari Jepara dan Pangeran Aryo Panangsang dari Jipang Panolan. Berakhirnya kemelut ini kemudian tampillah Ratu Kalinyamat sebagai Panguasa di Jepara dan Pangeran Hadiwijaya di Pajang pada tahun 1549. Adapun identitas kedua tokoh ini yaitu Ratu Kalinyamat adalah putri kandung dari Sultan Trenggono sedangkan pangeran Hadiwijaya adalah putra menantu Sultan Trenggono pula.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara berkembang pesat menjadi bandar niaga utama di pulau Jawa, yang melayani eksport-import. Di samping itu juga menjadi pangkalan angkatan laut yang telah dirintis  sejak masa kerajaan Demak. Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh-jinawi karena keberadaan Jepara pada waktu itu sebagai bandar niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan  jika orang Portugis menyebut Sang Ratu sebagai De Krange Dame  yng artinya wanita gagah berani, bahkan De Couto seorang penulis bangsa Portugis dalam bukunya Da Asia, menyebut diri Sang Ratu Kalinyamat sebagai Rainha De Jepara , Serona Paderosa De Rica, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.

Serangan Sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hampir 40 buah kapal yang berisikan lebih  5.000 orang prajurit. Namun demikian sayang serangan ini gagal. Ketika prajurit Ratu Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya menggempur benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan yang lengkap berhasil mematahkan kepungan tantara Kalinyamat.

Namun demikian semangat patriotisme Sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah banhsa Portugis, yang di abad 16 tersebut sedang dalam  kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di dunia. Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya 300 buah kapal diantanya 80 buah kapal Jung besar berawak 15.000 Orang prajurit Jawa pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini dipimpin oleh Panglima terpenting dalam kerajaan  yang disebut orang Portugis sebagai Quilino.

Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya pulau Jawa dari penjajahan Portugis di abad XVI tersebut.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
Tujuan penyelenggaraan upacara tradisi ini adalah  untuk memohon keselamatan  bagi seluruh warga   masyarakat Jepara serta rasa syukur masyarakat Jepara kepada Tuhan yang maha Kuasa dan memberikan penghormatan kepada Pangeran Hadiri dan Kanjeng Nimas Ratu Kalinyamat serta segala jasa yang diberikan kepada Jepara semasa hidupnya. Manfaat yang dapat diperoleh sebagai upaya melestarikan budaya tradisi, dengan menyesuaikan kaidah-kaidah keagamaan yang berlaku dan menjadi mayoritas dari masyakat setempat. Untuk daerah Jepara, tampaknya Islam yang berbasis organisasi sosial NU di pedesaan.

Upacara diselenggarakan setiap satu tahun sekali yaitu tiap bulan April sesuai dengan Hari Jadi jepara. Prosesi buka luwur peringatan Hari Jadi Jepara Ke-456 tahun 2005 dilaksanakan pada Hari Sabtu, tanggal 9 April 2005, tapat pada pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai sekitar menjelang Magrib, bertempat di Pendopo Kabupaten kemudian diteruskan di Makam Mantingan. 

Upacara tradisi Hari Jadi Kota Jepara ini juga menmapilkan kegagahberanian Ratu Kalinyamat memimpin ekspedisi ke Malaka. Dalam penyerangan tersebut memang tidak diperoleh hasil seperti yang diharapkan, namun tampak bahwa ekspedisi yang melibatkan banyak pasukan dengan kapal-kapal besarnya, menunjukkan bahwa pada masa tersebut koa pelabuhan Jepara mempunyai peran yang cukupo strategis. Semangat memelihara tradisi tampaknya dapat dijasikan sebagai modal yang potensial untuk merenovasi kembali kota pelabuhan Jepara pada masa sekarang ini.


IV. SIMPULAN


          Perhatian Pemkab terhadap lokasi bersejarah maupun nilai-nilai budaya lokal yang tercermin dalam upacara tradisional tersebut tampaknya cukup besar, hal ini terlihat dari langkah-langkah yang dilakukan untuk merenovasinya dan melestarikan sebagai daya tarik pariwisata. Langkah renovasi yang dilakukan juga tetap berupaya semaksimak mungkin melestarikan bentuk dan ornamen aslinya. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai kesejarahannya tetap melekat pada benda tersebut. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa Pemkab mempunyai keseriusan untuk menggali kembali peran Jepara sebagai pelabuhan pada masa lalu dengan cara  menggali nilai-nilai sejarah yang melekat pada lokasi tersebut agar tidak mengalami kepunahan.

          Wisata alam yang ada di kota Jepara yang mempunyai orientasi laut juga sangat beragam. Antara lain Karimunjawa dengan kekayaan flora dan fauna yang ada di dasar laut dan telah ditetapkan sebagai Taman nasional Laut, arena bermain yang disiapkan sebagai dunia fantasi di pantai Kartini yang telah dilengkapi dengan bangunan kura-kura besar, komidi putar dan arena mandi bola serta beberap gazebo untuk melihat keindahan pantai, Selain pantai kartini juga terdapat pantai Bandengan dan terdapat museum Bahari yang bangunannya menjadi bagian dari museum Kartini.

          Kegiatan sosial budaya yang ada antara lain berupa upacara tradisional juga diilhami oleh keberanian Ratu Kalinyamat menguasai lautan dalam rangka penyerangan ke Malaka untuk mengusir VOC. Beberapa upacara tradisi yang mengangkat simbol keberanian Ratu menjelajahi laut dengan kekuatan armadanya berangkat dari pelabuhan Jepara antara lain tampat pada upacara Sedelah laut, upacara Baratan dan Hari Jadi Kota Jepara. Beberapa upacara tersebut semua diilhami oleh potensi laut, dengan harapan secara langsung melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang berotientasi pada laut.[PIF]





[1] Pemkab Jepara, Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi, Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kab Jepara Tahun 2006: hal. 22-29.
 [2]  Ari Jatmiko, wawancara, 7 Juli 2008.

[3] Dinas Pariwisata Kab. Jepara, Legenda Obyek Wisata Jepara:hal. 33.

[4] Subekti, Wawancara, Pensiunan Penilik Kebudayaan Kec. Keling.

[5] Dinas Pariwisata Kab. Dati II Jepara, Legenda Obyek Wisata Jepara, Tahun 2007-2008 : hal. 35-37.
 [6] Budi, Wawancara, 9 Juni  2008.
 [7] Panitia Peringatan Hari Jadi Jepara ke-456, 2005.


About cv. Papan Indah Furniture

We are interior and furniture designer. We are ready to service you so funny. We give priority to honesty and customer satisfaction. Contact us for more information... Nice to service you
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentar Anda yang baik dan sopan serta bermanfaat.

Tertanda,
CV PAPAN INDAH FURNITURE


Top